Selasa, 09 Maret 2010 By: erinz_area

PTK Metode Kooperatif Tipe STAD

Pengaruh Peneranan Pengajaran Georafi dengan Menggunakan Metode Kooperatif Tipe STAD Terhadap Ketuntasan Belajar Siswa di Kelas XlI IPS - 1 SMA Negeri 8 Surabaya Pada Pokok Bahasan Penginderaan Jauh Tahun Pelajaran 2009 / 2010

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di ikuti dengan penemuan - penemuan baru, memberikan gambaran bahwa perkembangan ilmu dan teknologi semakin cepat. Perkembangan teknologi tidak akan lepas dari perkembangan bidang - bidang yang lain terutama SDM. Seiring dengan kemajuan IPTEK tersebut bidang ilmu Geografi harus mampu mengikuti perkembangan bidang - bidang ilmu yang lain.
Goegrafi sebagai salah satu disiplin ilmu yang memegang peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini. Oleh karena itu program pendidikan sosial dan ilmu pendidikan yang lainnya diupayakan dapat memberikan kemampuan kepada peserta didik untuk memperdalam dan menguasai IPTEK tersebut.
Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam dunia pendidikan adalah rendahnya mutu pendidikan. Hal ini terbukti dengan hasil ujian yang selau di bawah standart yang telah ditetapkan. Oleh karena itu untuk mengikuti perkembangan IPTEK tersebut mutu pendidikan dapat ditingkatkan melalui berbagai upaya yang meliputi pengembangan kurikulum, peningkatan mutu tenaga pengajar, pengembangan kualitas belajar mengajar, dan lingkungan yang kondusif.
Dari upaya - upaya tersebut komponen yang merupakan kunci pokok bagi keberhasilan peningkatan mutu pendidikan adalah guru. Untuk itu kemampuan profesional guru perlu ditingkatkan dan dikembangkan melalui pendidikan, pelatihan, dan pembinaan serta berkesinambungan. Peningkatan dan pengembangan profesionalisme tersebut meliputi berbagai aspek antara lain kemampuan guru dalam penguasaan meteri pengajaran dan kemampuan menggunakan metode dan saran dalam proses belajar mengajar.
Geografi merupakan salah satu dari ilmu pengetahuan yang berperan dalam pendidikan di sekolah, namun selama ini terdapat kesan atau anggapan bahwa mata pelajaran Geografi itu sulit, tidak menarik, dan cenderung membosankan, sehingga siswa enggan untuk mempelajari Geografi, apalagi tertarik.
Dengan berkurangnya minat siswa terhadap mata pelajaran Geografi jelas akan mempengaruhi sikap siswa terhadapa pelajaran Geografi sehingga berdampak pada turunnya kemampuan penguasaan materi Geografi. Karena minat siswa yang kurang terhadap pelajaran geografi, hal ini menjadikan Geografi bukanlah mata pelajaran yang kurang favorit untuk dipelajari di sekolah - sekolah, sehingga Geografi benar menjadi pelajaran yang tidak disukai siswa.
Dengan uraian di atas maka penulis ingin membuat laporan mengenai bagaimana minat siswa terhadap mata pelajaran Geografi, serta pengaruhnya terhadap nilai tugas dan ulangan harian.

B.Rumusan Masalah
1.Bagaimana minat siswa SMA Negeri 8 Surabaya terhadap mata pelajaran Geografi ?
2.Bagaimana minat siswa SMA Negeri 8 Surabaya dalam belajar Geografi dengan menggunakan metode kooperatif tipe STAD ?
3.Apakah minat siswa dan metode pengajaran yang digunakan dalam pelajaran Geografi berpengaruh terhadap ketuntasan belajarnya ?

C.Tujuan
1.Untuk mengetahui bagaimana minat siswa SMA Negeri 8 Surabaya terhadap mata pelajaran Geografi ?
2.Untuk mengetahui bagaimana minat siswa SMA Negeri 8 Surabaya dalam belajar Geografi dengan menggunakan metode kooperatif tipe STAD ?
3.Untuk mengetahui apakah minat siswa dan metode pengajaran yang digunakan dalam pelajaran Geografi berpengaruh terhadap ketuntasan belajarnya ?

D.Metode Penelitian
1.Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama kegiatan PPL yang berlangsung pada tanggal 11 Juli - 11 September 2009 di SMA Negeri 8 Surabaya
2.Populasi dan Sampel
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII - IPS Semester Ganjil tahun 2009 - 2010 di SMA Negeri 8 Surabaya. Keseluruhan subyek yang diteliti bersifat homogen, yang berarti bahwa materi yang disajikan sama siswa tidak dibedakan berdasarkan kemampuan masing - masing.
Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Adapun yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah kelas XII - IPS 1 Semester Ganjil tahun 2009 - 2010 di SMA Negeri 8 Surabaya.
3.Sumber Data
Dalam penelitian ini sumber data yang digunakan adalah data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari lapangan.
4.Tehnik Pengumpulan Data
a.Metode Angket
Metode angket dilakukan dengan mengajukan pertanyaan pada responden secara tertulis tentang pendapat mereka mengenai belajar geografi dengan menggunakan metode diskusi.
b.Metode Tes
Metode tes digunakan untuk mendapatkan data tentang ketuntasan belajar siswa yang berupa kuantitatif berbentuk skor. Pelaksanaan tes pada akhir pembelajaran ( akhir materi )
5.Prosedur Penelitian
Langkah - langkah dalam penelitian :
a.Proses belajar mengajar menggunakan Metode Kooperatif Tipe STAD dengan diskusi kelompok.
b.Tes di akhir meteri pembelajaran
c.Menyebarkan angket
6.Standart Ketuntasan Belajar
Standart ketuntasan belajar yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah apabila siswa mencapai skor nilai 70 di dalam menjawab pertanyaan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.Hakekat Belajar Mengajar
Proses belajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Peristiwa belajar mengajar banyak berakar pada berbagai pandangan dan konsep. Oleh karena itu, perwujutan proses belajar mengajar dapatr terjadi dalam berbagai model.
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. Interaksi dalam hubungan belajar mengajar mempunyai arti yang luas, tidak sekedar hubungan antara guru dengan siswa, tetapi berupa interaksi edukatif. Dalam hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa meteri pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar.
Proses belajar mengajar mempunyai makna dan pengertian yang lebih luas daripada pengertian mengajar. Dalam proses belajar mengajar tersirat adanya satu kesatuan kegiatan yang tidak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar. Antara kedua kegiatan ini terjalin interaksi yang saling menunjang.
Dalam satu kali proses belajar mengajar, yang pertama kali dilakukan adalah merumuskan tujuan pembelajaran khusus ( TPK ) yang akan di capai. Setelah merumuskan TPK, langkah berikutnya adalah menentukan metode mengajar yang merupakan wahana pengembangan meteri pembelajaran sehingga dapat diterima dan menjadi milik siswa. Kemudian menentukan alat peraga pengajaran yang dapat digunakan untuk memperjelas dan menunjang tercapainya tujuan tersebut. Langkah yang terakhir adalah menentukan alat evaluasi yang dapat dujadikan sebagai feedbeck bagi guru dalam meningkatkan kualitas mengajarnya maupun kusntitas belajar siswa. Dari uraian ini jelaslah bahwa belajar mengajar merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berkaitan satu sama lain, dan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Pemahaman akan pengertian dan pandangan akan banyak mempengaruhi peranan dan aktivitas guru dalam mengajar. Sebaliknya, aktivitas guru dalam mengajar dan aktivitas siswa dalam belajar sangat bergantung pula pada pemahaman guru terhadap mengajar. Mengajar bukan hanya sekedar proses penyampaian ilmu pengetahuan, melainkan terjadinya interaksi manusiawi dengan berbagai aspek yang cukup kompleks.

B.Tinjauan Umum Pembelajaran Kooperatif
Semua model mengajar ditandai dengan adanya strukrur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan ( reward ). Struktur tugas mengacu kepada dua hal yaitu pada cara pembelajaran itu di organisasikan dan jenis kegiatan yang dilakukan oleh siswa di dalam kelas. Hal ini berlaku pada pengajaran klasikal maupun pengajaran dengan kelompok kecil, siswa diharapkan melakukan apa selama pengajaran itu, baik tuntutan akademik dan sosial terhadap siswa pada saat merka bekerja menyelesaikan tugas - tugas belajar yang diberikan kepada mereka. Struktur tugas berbeda sesuai dengan berbagai macam kegiatan yang terlibat dalam pendekatan pengajaran tertentu.
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak - tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keseragaman, pengembangan keterapilan sosial.
Sebenarnya pembelajaran kooperatif merupakan ide lama. Pada awal abad pertama seorang filosof berpendapat bahwa untuk dapat belajar seseorang harus memiliki pasaangan atau teman. Dari situlah ide pembelajaran kooperatif dikembangkan. Pada pembelajaran kooperatif tidaklah berevolusi dari satu pendekatan belajar tunggal. Model ini dapat diteluisuri kembali dari zaman yunani kuno, namun perkembangannya pada masa kini dapat dilacak dari karya para ahli psikologi pendidikan dan teori belajar pada abad ke - 20.
Pada tahun 1916, Jhon Dewey, yang kemudian mengajar di Universitas Chicago, menulis menulis sebuah buku yang berjudul Democracy and Education. Dalam buku itu dia menetapkan sebuah konsep pendidikan yang menyatakan bahwa kelas seharusnya cermin dari masyarakat yang lebih besar dan berfungsi sebagai labolatorioum tentang kehidupan nyata.
Beberapa Tahun setelah Dewey memperkenalkan pedagoginya, Herbert Thelan ( 1954, 1969 ), juga dari Universitas Chicago, mengembangkan prosedur yagn lebih tepat untuk membantu siswa bekerja dalam kelompok. Seperti halnya Dewey, Phelan berargumentasi bahwa kelas haruslah merupakan labolatorium atau miniatur demokrasi yang bertujuan mengkaji masalah - masalah sosial dan antar pribadi. Thelan yang tertarik dengan dinamka kelompok, mengembangkan bentuk yang lebih rinci dan terstruktur dari penyelidikan kelompok yang akan dibicarakan kemudian, mempersiapkan dasar konseptual untuk pengembangan masa kini pembelajaran kooperatif.
Tabel Langkah - Langkah
Model Pembelajaran Koopertif
Fase Tingkah laku guru
Fase - 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotifasi sisawa belajar
Fase - 2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
Fase - 3
Mengorganisasi siswa ke dalam kelompok - kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok - kelompok belajra dan membantu setiap kelompok agar melakukan transasasi secara efisien
Fase - 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok - kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase - 5
Evaluasi
Guru mengefaluasi hasil belajar tentang materi belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing - masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Fase - 6
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara - cara untuk menghargai baik upaya maupu hasil belajar individu dan kelompok

Dalam STAD, siswa dikelompokkan dalam tim - tim pembelajaran dengan empat anggota, anggota tersebut campuran ditinjau dari tingkat kinerja, jenis kelamin, dan suku. Guru mempresentasikan sebuah pelajaran dan kemudian siswa bekerja dalam tim - timnya untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menuntaskan pelajaran itu. Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis individu tentang bahan ajar tersebut, pada saat itu mereka tidak boleh saling membantu.
Ide utama di balik STAD adalah untuk memotifasi siswa saling memberi semangat dan membantu dalam menuntaskan dalam menuntaskan keterampilan keterampilan yang dipresentasikan guru. Apabila siswa menginginkan tim mereka mendapatkan penghargaan tim, mereka harus membantu teman satu tim dalam mempelajari bahan ajar tersebut. Mereka harus memberi semangat teman satu timnya yang melakukan yang terbaik, menyatakan norma bahwa belajar itu penting, bermanfaat, dan menyenangkan. Siswa bekerja sama setelah guru mempresentasikan pelajaran. Mereka dapat bekerja berpasangan dengan cara membandingkan jawaban - jawabannya, mendiskusikan perbedaan yang ada, dan saling membantu satu sama lain saat menghadapi jalan buntu.
STAD terdiri dari Lima Komponen Utama : Presentasi Kelas, Kerja Tim, Kuis, Skor Perbaikan Individu, dan Penghargaan Tim. Bahan ajar dalam STAD mula - mula diperkenalkan melalui presntasi kelas. Presentasi ini paling sering menggunakan pengajaran langsung atau suatu ceramah - diskusi yang dilakukan oleh guru, namun presentasi dapat meliputi presentasi audio - visual atau kegiatan penemuan kelompok. Pada kegiatan ini siswa bekerja lebih dulu untuk menemukan informasi atau mampelajari konsep - konsep atas upaya mereka sendiri sebelum pengajaran guru. Presentasi kelas dalam STAD berbeda dari pengajaran biasa, hanya pada presentasi tersebut harus jelas - jelas memfokus pada unit STAD tersebut. Dengan cara ini, siswa menyadari bahwa mereka harus sungguh - sungguh memperhatikan presentasi kelas tersebut, karena dengan begitu akan membantu mereka mengerjakan kuis dengan baik, dan skor kuis mereka menentukan skor timnya.

BAB III
DATA DAN HASIL PENELITIAN

Dari penelitian yang saya lakukan, data - data yang berhasil dikumpulkan dan dianalisis serta disajikan oleh penulis adalah sebagai berikut :
A.Populasi dan Sampel
1.Populasi
Populasi atau subjek yang dijadikan sasaran dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII - IPS di SMA Negeri 8 Surabaya yang berjumlah 158 orang siswa.
2.Sampel
Sedangkan sampel yang peneliti ambil adalah siswa kelas XII IPS - 1 di SMA Negeri 8 Surabaya yang berjumlah 39 orang siswa.
B.Analisis dan Hasil Penelitian
1.Hasil Pengisian Angket Siswa
a.Pandangan Siswa Terhadap Pelajaran Geografi
Kedudukan Pelajaran Geografi Jumlah
Geografi pelajaran yang sulit 5
Geografi pelajaran yang sedang 28
Geografi pelajaran yang mudah 6
Jumlah 39

Responden yang menganggap pelajaran Geografi sulit x 100
Jumlah total responden
= 5/39 x 100% =12,8%

Responden yang menganggap pelajaran Geografi sedang x 100
Jumlah total responden
= 28/39 x 100% = 71,8%

Responden yang menganggap pelajaran Geografi mudah x 100
Jumlah total responden
= 6/39 x 100 % = 15,4 %


Dari perhitungan di atas dapat diketahui bahwa reponden yang menganggap Geografi adalah pelajaran yang sulit, yaitu sekitar 12,8 % sedangkan responden yang menganggap bahwa pelajaran Geografi adalah pelajaran yang sedang, adalah 71,8 % dan responden yang menganggap bahwa pelajaran Geografi adalah pelajaran yang mudah adalah 15,4 %. Dari hasil keseluruhan prosentase di atas jumlah siswa yang menyatakan bahwa pelajaran Geografi adalah pelajaran yang sedang tingkat kesulitannya lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang menganggap bahwa pelajaran Geografi merupakan pelajaran yang sulit maupun yang menganggap mudah.

b.Kedudukan Metode Kooperatif Tipe STAD Dalam Pelajaran Geografi
Metode kooperatif menyenangkan 35
Metode kooperatif tidak menyenangkan 4
Jumlah 39

Responden yang menganggap metode kooperatif menyenangkan x 100
Jumlah total responden
= 35/39 x 100 %
= 92,1 %

 Responden yg menganggap metode kooperatif tdk menyenangkan x 100
Jumlah total responden
= 4/39 x 100 %
= 10,2 %

Dari perhitungan di atas diketahui bahwa responden yang menganggap belajar Geografi dengan menggunakan metode kooperatif menyenangkan, yaitu 92,1 %, sedangkan responden yang menganggap belajar geografi dengan menggunakan metode kooperatif tidak menyenangkan adalah sekitar 10,2 %. Dari hasil keseluruhan prosentase di atas jumlah siswa yang menyatakan bahwa belajar Geografi dengan menggunakan metode kooperatif tipe STAD menyenangkan lebih banyak dibandingkan mereka yang menyatakan bahwa belajar Geografi dengan menggunakan metode kooperatif tipe STAD tidak menyenangkan.

c. Tanggapan Siswa Tentang Metode Kooperatif Tipe STAD
Dengan menggunakan metode kooperatif tipe STAD materi lebih mudah dipahami
36
Dengan menggunakan metode kooperatif tipe STAD materi sulit dipahami 3
Jumlah 39

 Responden yang lebih mudah memahami materi x 100
Jumlah total responden

= 36 x 100 %
39
= 92,3 %

 Responden yang sulit memahami materi x 100
Jumlah total responden

= 3 x 100 %
39
= 7,7 %

Dari perhitungan data di atas diketahui bahwa responden yang lebih mudah memahami materi dengan menggunakan metode kooperatif tipe STAD yaitu 92,3%, sedangkan responden yang sulit memahami materi dengan mengguanakan metode kooperatif tipe STAD adalah 7,7%. Dari hasil keseluruhan prosentase di atas jumlah siswa yang menyatakan bahwa belajar Geografi dengan menggunakan metode koopertif tipe STAD materi lebih mudah dipahami dari pada siswa yang menyatakan bahwa dengan menggunakan metode koopertaif tite STAD materi sukit untuk dipahami.

d. Mengerjakan Soal dengan Menggunakan Metode Kooperatif Tipe STAD
Mengerjakan soal dengan metode kooperatif tipe STAD lebih mudah 35
Mengerjakan soal dengan metode koopertif tipe STAD lebih sulit 4
Jumlah 39

 Responden yang lebih mudah mengerjakan soal x 100
Jumlah total responden

= 35 x 100 %
39
= 89,7 %

 Responden yang lebih sulit mengerjakan soal x 100
Jumlah total responden

= 4 x 100 %
39
= 10,2 %


Dari perhitungan data di atas diketahui bahwa responden yang merasa lebih mudah mengerjakan soal dengan menggunakan metode kooperatif tipe STAD sebesar 89,7 % sedangkan responden yang merasa sulit mengerjakan soal dengan menggunakan metode kooretif tipe STAD sebesar 10,2 %. Dari hasil keselurah prosentase di atas, jumlah siswa yang menyatakan lebih mudah mengerjakan soal dengan menggunakan metode kooperatif tipe STAD lebih banyak dibandingkan dengan jumlah siswa yang menyatakan bahwa mengerjakan soal dengan menggunakan metode kooretif tipe STAD lebih sulit.



2. Hasil Pengerjaan Soal
a. Pengerjaan Soal Secara Individu
Siswa mencapai standart ketuntasan belajar yang ditetapkan 25
Siswa tidak mencapai standart ketuntasan belajar yang ditetapkan 14
Jumlah 39





 Siswa mencapai standart ketuntasan belajar yang ditetapkan x 100
Jumlah total responden
= 25 x 100 %
39
= 64,1 %

 Siswa tidak mencapai standart ketuntasan belajar yang ditetapkan x 100
Jumlah total responden

= 14 x 100 %
39
= 35,9 %

Dari data di atas dapat diketahui bahwa dalam mengerjakan soal secara individu siswa yang mencapai ketuntasan belajar yang ditetapkan dalam materi ini adalah 64,1% sedangkan siswa yang tidak mencapai standart ketuntasan yang ditetapakan adalah 35,9%. Dari hasil analisis yang dilakukan penulis dapat diketahui bahwa, dengan mengerjakan soal secara individu siswa yang mencapai standart ketuntasan belajar yang ditetapkan lebih banyak daripada siswa yang tidak mencapai standart ketuntasan belajar yang telah ditetapkan deng selisih 28,2%.

b. Pengerjaan Soal Secara Berkelompok

Siswa mencapai standart ketuntasan belajar yang ditetapkan 30
Siswa tidak mencapai standart ketuntasan belajar yang ditetapkan 9
Jumlah 39

 Siswa mencapai standart ketuntasan belajar yang ditetapkan x 100
Jumlah total responden

= 30 x 100 %
39
= 76,9 %
 Siswa tidak mencapai standart ketuntasan belajar yang ditetapkan x 100
Jumlah total responden

= 9 x 100 %
39
= 23,1 %

Dari data di atas dapat diketahui bahwa dalam mengerjakan soal secara berkelompok siswa yang mencapai standart ketuntasan belajar yang telah ditetapkan dalam meteri ini adalah 76,9 % sedangkan siswa yang tidak mencapai standart ketuntasan belajar yang ditetapkan adalah 23,1%. Dari hasil analisis yang dilaklukan oleh penulis dapat diketahui bahwa, dengan mengerjakan soal secara secara berkelompok siswa yang mencapai ketuntasan belajar yang ditetapkan lebih banyak daripada siswa yang tidak mencapai standart ketuntasan belajar yang ditetapkan dengan selisih 53,8 %

Dari hasil analisis perbandingan selisih ketuntasan belajar siswa antara mengerjakan soal secara individu dan berkelompok dapat diketahui bahwa ketuntasan belajar siswa dengan mengerjakan soal secara berkelompok lebih besar dibandingkan ketika siswa mengerjakan soal secara individu yaitu sebesar 25,6 %.



BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari data yang telah dikumpulkan oelh penulis dan setelah dilakukan analisa dan perhitungan maka penulis talah memperoleh beberapa kesimpulan yang menggambarkan hasil dari penelitian penulis tentang metode pembelajaran kooperatif tipe STAD ini. Berdasarkan data yang telah diuraikan maka dapat diketahui bahwa siswa di SMA Negeri 8 Surabaya kebanyakan memandang mata pelajaran Geografi sebagai mata pelajaran yang mudah, hanya sebagian kecil yang memandang mata pelajaran Geografi sebagai mata pelajaran yang sulit. Siswa yang memandang bahwa belajar mata pelajaran Geografi dengan menggunakan metode kooperatif lebih menyenangkan lebih banyak daripada siswa yang memandang belajar mata pelajaran Geografi dengan mengguanak metode kooperatif kurang menyenangkan. Dengan mengguakan metode kooperatif siswa juga merasa lebih mudah memahami materi pelajaran, sehingga siswa lebih mudah dalam menyelasaikan soal - soal maupun tugas yang diberikan oleh guru.

Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis dapat dapat mengambil kesimpulan bahwa dengan menggunakan metode kooperaif tipe STAD materi yang disampaikan mudah dipahami oleh siswa. Hal ini dapat diketahui dari hasil tes yang telah dikerjakan oleh siswa. Dari hasil tes tersebut dapat diketahui bahwa dengan menggunakan metode koopertif tipe STAD, siswa yang mencapai ketuntasan belajar lebih banyak daripada ketika mengunakan metode individualistik.

B. SARAN

Setelah melihat hasil penelitian yang dilakukan, maka penulis apat memberikan saran kepada bapak atau ibu guru yang mengajar mata pelajaran geografi agar menggunakan metode kooperatif tipe STAD ini agar siswa saling berinteraksi atau bertukar pikiran dengan sesama siswa sehingga siswa dapat dengan mudah memahami materi dan mengerjakan soal.




DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsini. 2002. prosedur penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta
Uzer Usman, Muhammad. 2002. Menjadi Guru Profesional. Bandung : Remaja Rosdakarya
Nur, Muhammad. 2005. Pembelajaran Koopertif. Surabaya : Pusat Sains Matematika Sekolah Unesa
Ibrahim, Muslimin. dkk. Pembelajaran kooperatif. Surabaya : Unesa – University Press